Kamis, 30 Juni 2011

Analisis Naskah Drama


BENTURAN KEPENTINGAN DALAM DRAMA DILARANG KAWIN KARYA IWAN DJIBRAN

Abstrak

Tujuan analisis naskah drama Dilarang Kawin yaitu untuk mengetahui pesan atau amanat moral yang pengarang berusaha sampaikan melaui naskah drama. Selain itu, untuk mengetahui keterkaitan antara cerita dalam naskah drama dengan kehidupan atau realitas yang terjadi di masyarakat. Masih adakah kehidupan yang mirip atau serupa dengan naskah drama, atau naskah drama Dilarang Kawin ini hanya karya fiksi semata tanpa potret dari realita yang ada. Serta adakah keterkaitan naskah drama dilarang kawin dengan naskah drama lain yang menggambarkan penceritaan y ang serupa, meski dalam konteks dan situasi yang berbeda.

Pendahuluan
Sastra adalah karya dan kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi dan penciptaan. Beberapa contoh hasil sastra yaitu puisi, novel, cerpen, dan drama. Pada kesempatan ini penulis hanya akan membahas tentang drama, dalam hal ini analisis naskah drama.
Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang masih kurang diakrabi oleh pembaca atau penikmat karya sastra. Kebanyakan dari masyarakat penikmat sastra lebih gemar melihat pementasan naskah drama adaripada membaca naskah drama. Tak jarang dalam pementasan drama terdapat adegan dan dialog yang dipotong atau dihilangkan. Meskipun tidak menghiangkan atau mengurangi pesan yang ingin pengarang sampaikan kepada masyarakat.
Selain membaca dan melihat pertunjukan drama, analisis naskah drama pun tak kalah pentingnya. Dengan menganalisis naskah drama, kita dapat mengetahui makna yang lebih dalam terhadap karya sastra yang berusaha pengarang sampaikan. Naskah drama merupakan karya fiksi yang lebih banyak menggamabrkan kehidupan masyarakat. Salah satu contohnya yaitu naskah drama Dilarang Kawin yang akan penulis analisis pada pembahasan ini. Naskah drama Dilarang Kawin menceritakan tentang perbedaan status dan kewarganegaraan yang mengakibatkan hubungan dua insan yang sedang menjalani asmara harus terbentur oleh perbedaan tersebut.

Pembahasan
Drama Dilarang Kawin karya Iwan Djibran menceritakan kemelut hubungan asmara yang dijalani oleh Drajat dan Susi Hong. Drajat adalah orang pribumi asli, sementara Susi Hong adalah warga keturunan Cinta yang tinggal di Indonesia. Cinta mereka terbentur oleh restu kedua orang tua karena perbedaan ras dan kewarganegaraan.
Keluarga yang satu adalah keturuan Cina dan yang satunya lagi adalah berlatar belakang pribumi atau orang Indonesia asli. Kisah ini terjadi di negara Indonesia. Sebagian besar orang Cina yang berada di negara ini adalah imigran dari negeri TIongkok, tempat mereka berasal. Namun kesialan terjadi saat kedua keluarga ini akan disatukan oleh sebuah ikatan cinta di antara anak-anak mereka. Sangat jarang memang orang Cina yang menyetujui anaknya untuk menikah dengan orang Indonesia atau Pribumi. Selain karena terkenal miskin, penduduk di negeri ini juga terkenal suka memanfaatkan kekayaan seseorang. Hal ini terlihat dari setiap tema sinetron di layar televisi di Indonesia.
Selain berkisah tentang keluarga, pertentangan keras antara kedua keluarga ini juga dilatarbelakangi oleh sebuah tragedi berdarah di Jakarta, saat masyarakat Tiongkok dibantai massal oleh orang Indonesia yang diprovokasi oleh pemerintah Belanda guna membendung paham komunis. Kaum kapitalis memang sangat benci dengan yang namanya sosialis komunis. Pertentangan ketiga ideologi ini terlihat dari tragedi percintaan yang tidak henti-hentinya mendapat pernyataan ketidaksetujuan, baik dari orang Indonesia sendiri maupun orang asing di negeri ini (orang Arab).
Pada adegan pertama menceritakan tentang pertemuan Drajat dan Susihong di sebuah taman. Keduanya sama-sama merenungi hubungan cinta mereka yang tanpa restu orang tua. Rasa hormat terhadap orang tua dan perasaaan cinta yang membara membuat jiwa mereka tertekan. Hal inilah salah satu penyebab yang senantiasa membuat Drajat mengeluh. Gambaran peristiwa dapat dilihat pada cuplikan dialog berikut.
“Susi : Tapi kau sering mengeluh.
Drajat : uuuhh….mengeluh adalah tanda orang yang masih hidup jangan salahkan aku!”
Adegan kedua terjadi dirumah Susihong dan Drajat. Dimana dikedua rumah itu terjadi perdebatan antara anak dan orang tua yang berhubungan dengan larangan susihong dan Drajat menjalin asmara. Menurut pendapat papa Hong ayah Susi Hong, orang pribumi mencintai orang cina hanya karena hartanya. Dalam hal ini, kita dapat mengartikan bahwa bukan cinta suci yang diberikan orang pribumi terhadap orang cina. Melainkan karena adanya sesuatu yang diinginkan. Entah itu harta ataupun jabatan. Meskipun jabatan pemerintahan tetap dipegang oleh orang pribumi, namun semua itu tidak lepas dari campur tangan orang cina. Hingga masyarakat cina menganggap bahwa mereka hanyalah hewan piaraan pribumi yang hanya akan diambil keuntungannya. Pendapat inilah yang membuat papa Hong melarang hubungan asmara mereka. Ia menganggap orang pribumi semuanya sama, sama-sama memperlakukan orang cina seperti ayam ras.
Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi dirumah Drajat. Pertentangan antara anak dan ayahnya terjadi. Paksa ayah Drajat takut jikalau nantinya yang menguasai dalam hal ini mewarisi wilayah indonesia adalah bangsa cina bukan bangsa indonesia. Selain itu, adanya monopoli pemerintahan ternyata telah terjadi beberapa tahun silam. Gambaran tentang adanya monopoli pemerintahan ini dapat dilihat dalam kutipan dialog berikut.
“paksa : Anakku ingatlah siapa namamu. Kau adalah Tampar Drajatnegara dan aku Dr. Paksa Cakarnegara. Aku mendidikmu untuk berbuat baik bagi keluarga dan golongan kita, bukan untuk negara! Karena semua pemimpin dinegara ini tidak ada yang mampu berbuat suci untuk memperbaiki negara, tetapi aku masih bersyukur, walaupun negara ini rusak tetapi pemimpinnya masih orang pribumi dan aku tak bisa bayangkan jika presiden negara ini adalah Cina.”
Kalimat yang perlu digarisbawahi pada potongan dialog di atas yaitu “Aku mendidikmu untuk berbuat baik bagi keluarga dan golongan kita, bukan negara kita.” Potongan kalimat tersebut merupakan gambaran atas jabatan/kekuasaan yang oleh para pemimpin hanya dijadikan sebagai ajang kepentingan pribadi dan golongan. Hanya untuk memperkaya dan memakmurkan diri sendiri, bukan untuk kemakmuran dan kemaslahatan masyarakat.
Gambaran tentang peristiwa tersebut banyak terjadi di negara kita. Di mana orang-orang berduitlah yang akan memiliki suatu jabatan yang tinggi. Segala sesuatunya dibeli dengan uang. Jabatan dibeli dengan uang, tanpa sekolah orang yang beruang dapat memiliki ujazah perguruan tinggi, dengan apalagi kalau bukan dengan uang. Bahkan yang lebih tragis lagi, paman, om, tante, dan kerabat dapat dihargai dengan uang.
Selain gambaran masalah politik, gambaran tentang perbedaan status dan ras masih banyak juga terjadi dalam masyarakat kita. Meskipun dalam kasus yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu naskah drama yang berjudul Ningrat karya La Ode Sadia. Drama Ningrat tidak jauh berbeda dengan drama Dilarang Kawin. Keduanya sama-sama melarang anaknya menjalin hubungan asmara karena perbedaan status sosial. Jika dalam drama Dilarang Kawin karena adanya perbedaan kewarganegaraan, dalam drama Ningrat karena adanya perbedaan strata sosial dalam hal ini kaum bangsawan dan rakyat jelata. Kasus ini tidak lepas dari sorot mata kita akan kehidupan masyarakat Indonesia. Di mana yang kaya makin kaya dan yang miskin akan semakin terpuruk.
Selain itu, kisah dalam drama Dilarang Kawin merupakan salah satu dampak dari peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam. Di mana ketika itu masyarakat Indonesia membantai habis penduduk Cinta yang bertempat di Indonesia. Meski bukan tanpa alasan, namun peristiwa tragis tersebut pasti masih tetap berdampak pada beberapa generasi berikutnya.
Drama Dilarang Kawin juga memberikan gambaran akan masyarakat Indonesia akan dijajah kembali. Dalam hal ini bukan dijajah secara fisik, melainkan ketakutan akan dirampasnya hal milik perseorangan dan digantikan dengan hak milik secara bersama yang diatur atau dikontrol oleh pemerintah. Mengapa ketakutan ini terjadi, sebab bangsa Cinta ketika itu adalah bangsa yang menganut paham komunis. Oleh sebab itu, mereka disebut golongan komunis. Meski di akhir cerita ternyata kaum pribumi sendiri yang menggadaikan bangsanya dengan dalihkerja sama dengan negara Amerika Serikat yang menganut paham kapitalis yang saat itu masih memimpin atau memegang perekonomian dunia. Meski kedudukan itu telah lengser dan jatuh ke tangan Cina.
Drama ini adalah cermin dan ketiga warga negara yang ada di Indonesia, di mana masing-masing pihak saling mempertahankan pengaruh. Tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing berpendapat bahwa bangsanyalah yang patut menjadi penguasa di Indonesia. Di sisi lain, orang pribumi mengalami dilematis di antara itu, di mana mereka bingung untuk menentukan pilihannya. Begitu banyak bangsa yang memiliki ideologi yang berbeda. Di sisi lain, Cina adalah negara komunis yang sangat dibenci oleh kapitalisme dari Amerika Serikat tetapi Cina juga adalah penyumbang devisa akonomi melalui masyarakat Cina yang tinggal di Indonesia. Wajar saja jika pada dialog antara Susi Hong dan ayahnya, ayahnya mengatakan bahwa “Kita ini seperti ayam ras yang hanya diambil keuntungannya oleh orang pribumi”. Ini adalah gambaran keadaan negara kita yang hanya mengambil keuntungan dari orang Cina tanpa memperdulikan keadaan mereka. Bayangkan saja, masih ada warga keturunan Cina yang yang masih selalu dipersulit dalam kepengurusan KTP. Ini menyedihkan memang.
Di lain pihak, orang Amerika juga memiliki pengaruh yang besar yang besar terhadap permodalan di Indonesia. Sebagian besar investor berasal dari sana. Sebagai negara berkembang kita juga ikut merasakan ini. Itulah sebabnya, Amerika Serikat juga selalu ikut campur dalam urusan dalam negeri Indonesia, bahkan beberapa kebijakan juga tidak luput dari perhatian mereka.
Selain ada keterkaitan antara drama Dilarang Kawin dengan drama Ningrat, masih ada pula keterkaitan antara kedua drama tersebut dengan drama Bulan Muda yang Terbenam karya La Ode Balawa. Di mana drama Bulan Muda yang terbenam juga mengisahkan petentangan antara atau kesenjangan sosial dalam hal ini perbedaan status sosial antara golongan ningrat dengan masyarakat biasa.
Perbedaan strata sosial tersebut mengakibatkan hubungan asmara antara Wani dan La Domai terbentur oleh restu orang tua. Di mana Wani adalah gadis keturunan bangsawan dalam hal ini Wani masih keturunan raja. Di mana ayah Wani masih menjunjung tinggi adat istiadat dan kepercayaan-kepercayaan nenek moyang. Hingga dia melupakan bahwa masih ada kekuasaan tertinggi di atas itu semua yaitu Tuhan yang Maha Esa. Sementara La Domai hanyalah seorang pelaut yang berasal dari masyarakat kebanyakan (rakyat jelata).
Keterkaitan antara ketiga drama tersebut yaitu adanya larangan atau pertentangan dari orang tua terhadap anaknya yang sedang menjalin hubungan asmara. Hanya karena adanya perbedaan strata sosial di antara keduanya. Dalam drama Dilarang kawin, penghalang hubungan cinta antara Susi Hong dan Drajat yaitu karena perbedaan kewarganegaraan. Di mana jika dikaitkan dengan kehidupan atau era sekarang yang mana perbedaan kewarganegaraan ataupun strata sosial sudah bukan merupakan halangan/rintangan bagi seseorang untuk menjalin asmara. Meskipun masih ada sebagian masyarakat yang tetap menjadikan perbedaan khususnya perbedaan strata sosial sebagai alasan untuk melarang anaknya menjalin asmara dengan orang yang sayangi.
Di sisi lain, di negara kita Indonesia ini jangankan perbedaan kewarganegaraan, perbedaan agama pun bukan lagi merupakan halangan bagi sepasang kekasih untuk membina keluarga. Meskipun pernikahan yang mereka laksanakan bukan negara kita, tetapi kehidupan dan waktu perjalanan kehidupan yang mereka jalani berada di negara kita. Hal ini, bukanlah contoh yang baik bagi generasi penerus bangsa. Jika dalam satu keluarga saja sudah tidak ada persamaan keyakinan, apalagi dari sisi yang lain. Inilah logika yang dapat kita ambil. Dan logika yang paling mendasar lagi, mengapa perbedaan srata sosiallah yang lebih banyak menyakiti perasaan sepasang remaja yang ingin membina rumah tangga. Apakah begitu hinanya masyarakat jelata itu? Sekali lagi, jika dilihat dari kehidupan sekarang ini, masyarakat biasalah yang lebih terhormat daripada mereka yang kaya tetapi dari hasil mencuri uang rakyat.
Jika dilihat dari penjelasan di atas dan dikaitkan dengan drama Dilarang Kawin, maka kita harus kembali menengok peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam. Di mana orang-orang cina yang tinggal di Indonesia pada waktu itu dibantai habis oleh penduduk Indonesia. Dengan anggapan bahwa orang Cina adalah orang dengan paham komunis. Seperti yang telah saya katakan pada pembahasan awal.
Peristiwa dalam drama Dilarang Kawin agak sedikit berbeda dengan peristiwa yang terjadi dalam drama Ningrat dan Bulan Muda yang Terbenam. Meski ketiganya sama-sama menentang asmara hanya karena adanya perbedaan yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipermasalahkan. Perbedaan yang terjadi dalam drama Ningrat dan Bulan Muda yang Terbenam yaitu karena adanya perbedaan srata sosial antara bangsawan (si kaya) dan rakyat jelata (si miskin). Meskipun ending atau akhir dari ketiga drama tersebut berbeda-beda. Akhir dari drama Dilarang Kawin yaitu dapat dikatakan bukan ending yang kita duga. Ending dari drama Dilarang Kawin ini merupakan gambaran dari kehidupan para pejabat yang ada di negara kita sekarang. Monopoli kekuasaan, peran keluarga, serta uanglah yang menjadi raja kekuasaan. Ketiga hal tersebut merupakan gambaran yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di negara kita sekarang ini.
Sementara akhir dari drama Ningrat yaitu seperti yang terjadi di masyarakat kebanyakan. Karena tidak adanya restu dari salah satu pihak, maka jalan pintas (kabur/biasa kita kenal dengan istilah kawin lari, meski pernikahan belum mereka lakukan). Peristiwa seperti ini sering kita lihat di masyarakat. Peristiwa ini mengingatkan saya pada drama Seribu Sunia. Di mana dalam drama Seribu Sunia juga menceritakan tentang larangan bagi Sunia dan La Mantugi yang sedang menjalin asmara. Larang ini berasal dari ayah Sunia. Di mana Sunia adalah keturunan dari orang berada, sementara La Mantugi adalah keturunan dari keluarga miskin. Akhir dari drama ini hampir sama dengan drama Ningrat, bedanya di akhir cerita akhirnya Sunia dan La Mantugi akan dinikahkan oleh masyarakat karena kesalahpahaman masyarakat terhadap mereka berdua.
Berbeda dengan akhir dalam drama Bulan Muda yang Terbenam. Di mana akhir dari drama ini yaitu kematian yang diawali dengan pertarungan antara La Domai (kekasih Wani) dan La Ngkaliti (kakak Wani). Kematian La Domai diikuti oleh bunuh dirinya Wani untuk menunjukkan betapa kuat dan tulusnya cinta mereka. Meski dengan akhir yang berbeda, namun keterkaitan keempat drama tersebut merupakan bukti bahwa perbedaan srata sosial masih melekat dalam masyarakat kita.
Selain perbedaan dan keterkaitan antara keempat drama di atas, terdapat pula pesan-pesan yang pengarang berusaha sampaikan melalui karya-karya mereka dalam hal ini naskah drama. Pesan yang kita tangkap ketika membaca drama Dilarang Kawin yaitu yang pertama, berkaitan dengan dunia pemerintahan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan dialog antara Drajat dan Paksa, berikut.
“Drajat: Aku tidak sependapat dengan ayah! Aku ingin kebaikan terwujud di negara ini.
Paksa: Anakku, ingatlah siapa namamu. Kau adalah Tampar Drajat Negara dan aku Dr. Paksa Cakarnegara. Aku mendidikmu untuk berbuat baik bagi keluarga dan golongan kita, bukan untuk negara! Karena semua pemimpin di negara ini tidak ada yang mampu berbuat suci untuk memperbaiki negara, tetapi aku masih bersyukur walaupun negara ini rusak tetapi pemimpinnya masih pribumi dan aku tak bisa membayangka jika presiden negara ini orang Cina.”
Dari kutipan dialog di atas memberikan gambaran pesan tentang masih adanya ketidakjujuran yang terjadi pada pemimpin-pemimpin kita. Meski tidak semuanya demikian. Kedua, berkaitan dengan diskriminasi ras (adanya pilih kasih yang mengutamakan golongan). Hal ini terlihat dalam kutipan dialog berikut.
“Drajat : ayah…, aku punya harapan selain cinta pada Susi Hong, aku juga ingin menghapus jurang diskriminasi antara pribumi dan keturunan Cina. Justru ayah sebagai menteri harus menciptakan persatuan suku bangsa di negara ini.”
Selain adanya ketidakjujuran pada pemerintahan di negara kita, sistem diskriminasi pun masih melekat pada bangsa kita. Hal inilah yang perlu dihapuskan dari bangsa kita. Agar apa yang dicita-citakan masyarakat untuk hidup damai dan sejahtera dapat terwujud.
Selain pesan-pesan yang telah diutarakan di atas, dari keempat perbandingan dan keterkaitan antara empat drama tersebut kita dapat menarik kesimpulan yang tersirat dari keempat drama tersebut secara umum yaitu himbauan kepada masyarakat agar menghapus perbedaan srata sosial yang ada dalam masyarakat itu sendiri. toh pada dasarnya tidak ada seorang pun yang mau hidup miskin. Hargailah mereka dan janganlah menjadikan harta dan jabatan sebagai perbedaan status sosial. Selain itu juga, janganlah memisahkan hubungan yang terjadi di antara pasangan kekasih yang ingin membina rumah tangga hanya karena harta.
Kesimpulan

Drama Dilarang Kawin merupakan kritikan terhadap para pemimpin negara akar dapat memanfaatkan kedudukan dan jabatannya untuk kemakmuran rakyat. Selain itu, kritikan tentang penghapusan perbedaan status sosial dalam masyarakat yang tidak penting yang dapat menimbulkan kesenjangan sosial. Tanpa disadari perbedaan strata dan status sosial ini masih ada di lingkungan masyarakat. Hal inilah yang sebenarnya menjadi pesan yang ingin pengarang sampaikan kepada masyarakat melalui drama Dilarang Kawin ini.

Daftar Pustaka

Djibran, Iwan. 2005. Antologi Drama Sulawesi Tenggara. Kendari: Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara.
Hidayat, ahid. 2009. Kontrapropaganda dalam Drama Propaganda, Sejumlah telaah. Kendari: FKIP Unhalu.
Wahid, Sugira. 2004. Kapita Selekta Kritik Sastra, cetakan kedua. Makassar: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Makassar (UNEM).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar